May 7, 2021
Call us: +62431-321845, +62431-321846, +62431-321847
akademisi-perlu-edukasi-masyarakat-untuk-lepas-stigma-terasing-suku-sakai

KOMPAS.com – Suku Sakai di pedalaman Riau didorong untuk terus melakukan edukasi terhadap masyarakat guna melepas stigma suku terasing yang selama ini melekat. Dorongan ini mengemuka dalam peluncuran film pendek berjudul “Mimpi Anak Sakai Riau”.
Bedah dan rilis film “Mimpi Anak Sakai Riau” diinisiasi Fakultas Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Pekan Baru pada Rabu, 7 April 2021.
Hadir dalam diskusi tersebut, Satria Utama (Ketua Forum Jurnalis Kreatif Riau), Iya Setyasih (Dekan Ilmu Ekonomi Sosial Universitas Mulawarman), Romi Mesra (Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Manado), dan Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Sosial, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate).
Dalam kesempatan peluncuran film yang merupakan karya 5 orang jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Kreatif Riau ini, Tarmizi (Ketua Majelis Kerapatan Adat Batin, Limo Mineh, Riau) menegaskan masyarakat Sakai di pedalaman Riau saat ini tak mau lagi disebut sebagai suku terasing. Alasannya, banyak anak dari suku tersebut kini telah memberikan banyak kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan seperti anggota DPRD, pengusaha dan pekerja kantoran. “Kami menolak sebutan suku terasing bagi Suku Sakai. Karena saat ini, banyak anak dari Suku Sakai yang berpendidikan tinggi dan memiliki ekonomi yang bagus,” ujar Tarmizi. 
Dalam kesempatan sama, Tarmizi juga meminta agar anak-anak Sakai diperlakukan secara adil, di antaranya diberi kesempatan sama untuk bekerja di bidang apa saja di pemerintahan.

Edukasi terkait Suku Sakai


Dekan Fakultas Komunikasi UMRI, Jayus menyatakan, pihaknya siap untuk bermitra dengan Forum Jurnalis Kreatif Riau untuk membuat film lainnya. Dengan demikian, stigma suku terasing yang melekat pada Suku Sakai dapat terhapus secara bertahap. “Tentunya kita juga perlu riset dan menayangkan film dokumenter itu di berbagai kesempatan.
UMRI akan mulai melakukan edukasi terkait masyarakat Sakai lewat jejaring sosial yang dimiliki UMRI,” ucapnya. Yanuardi Syukur yang hadir sebagai pembedah film dari kalangan akademisi menyatakan, Suku Sakai harus gencar melakukan edukasi agar stigma terasing itu dapat dihapus dari masyarakat secara bertahap. Ia menyampaikan, stigma inilah yang kemudian justru membawa dampak perlakuan diskriminatif terhadap masyarakat Sakai.

“Film karya anak bangsa ini perlu dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup suku terasing agar tidak lagi dipandang sebelah mata. Untuk itu, butuh kolaborasi semua pihak guna meningkatkan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain pada Suku Sakai,” jelas Syukur. Hal senada dikemukakan Iya Setyasih. Menurutnya, dibutuhkan sinergi pemerintah daerah dan  perusahaan setempat guna mendorong percepatan Suku Sakai menjadi masyarakat lebih maju. “Perusahaan memiliki program CSR dapat berkontribusi dengan membiayai program peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi masyarakat agar bisa cepat terlepas dari stigma terasing,” tutur Iya.

Sementara itu, Romi Mesra Dosen mengemukakan, film “Mimpi Anak Sakai” sangat mewakili orang Sakai asli mengingat film ini merujuk pada fakta di lapangan lewat beragam wawancara dan penelusuran lain. “Tetapi sayang, saat saya baca artikel di Google, ternyata masih ada kata terasing. Seharusnya sumber informasi tentang Sakai harus diperbaharui lebih dulu,” kata Romi. Untuk itu, menurut Romi, perlu peran serta tanggung jawab sosial perusahaan, khususnya yang beroperasi di sekitar permukiman untuk membantu dalam perubahan stigma tersebut.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Akademisi: Perlu Edukasi Masyarakat untuk Lepas Stigma Terasing Suku Sakai”, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2021/04/11/133315471/akademisi-perlu-edukasi-masyarakat-untuk-lepas-stigma-terasing-suku-sakai?page=all.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo