October 16, 2019
Call us: +62431-321845, +62431-321846, +62431-321847
revolusi-pendidikan-indonesia

Konvensi Nasional Pendidikan (KONASPI) IX Tahun 2019. Di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kampus Universitas Negeri Padang (UNP). Kamis, 14 Maret 2019.

Tanah Minang dengan legenda terkenal “Malin Kundang” dan “Sitti Nurbaya” memberi pesona tersendiri bagi ribuan peserta KONASPI 2019 termasuk didalamnya Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang mengutus 50 peserta konvensi dan dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Dr. Julyeta P.A. Runtuwene, M.S.

KONASPI 2019 merupakan wahana akademik bagi kaum pendidik di Indonesia yang selalu membahas isu-isu kritis dunia pendidikan Indonesia. Pada Rabu, 13 Maret 2019 telah dibuka secara resmi oleh MENRISTEKDIKTI Prof. Mohamad Nasir, Ph.D. Kali ini pokok pembahasan KONASPI adalah tentang Revolusi Pendidikan Indonesia.

Prof. Mohamad Nasir, Ph.D. dalam sambutan pembukaannya dikuti dengan simbol pemukulan gong menekankan pada hasil rekomendasi KONASPI 2019 yang solutif, aplikatif, dan inovatif.

“Melalui KONASPI 2019 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang solutif dan aplikatif bagi pengembangan tenaga kependidikan, dan inovasi sistem pembelajaran di Indonesia” tegas Menristekdikti.

Prof. Dr. Mahfud MD. Salah satu narasumber KONASPI IX Tahun 2019 memberikan materi sehubungan dengan perkembangan pendidikan yang harus didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.

“….. Pancasila telah diuji dalam segala proses di Negara kita. Bahkan sejarah bangsa Indonesia telah mengakui Pancasila. Pancasila telah berproses melalui proses konstitusional bahkan proses gerakan bersenjata” ungkap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI.

Lebih lanjut, Prof. Mahfud menambahkan terkait perkembangan pendidikan di Indonesia yaitu konsep “Pendidikan Kritis”.

“Pendidikan Kritis untuk mengembangkan pendidikan Indonesia, artinya, setiap warga Negara harus berpikir kritis tentang Undang-undang yang justru dihasilkan dari kepentingan dan kebijakan politik” tambah Prof. Mahfud.

Tawaran konsep pendidikan kritis perlu disertai dengan strategi pendidikan yang tepat sasaran yaitu menempatkan siapa yang akan menentukan nilai instrumental pendidikan dan siapa yang akan menjalankan nilai praktikal pendidikan. Bahkan Konsep dan strategi pendidikan kritis ini perlu dikampanyekan.

“Saya mau berkampanye. Kampanye tentang pendidikan kewarganegaan. Bukan soal harus memilih siapa tetapi mari berperan untuk menentukan masa depan bangsa yang didalamnya masa depan pendidikan. Gunakan hak pilih kita dalam PEMILU 17 April 2019 bukan hanya soal memilih pemimpin dan wakil rakyat tetapi juga untuk menentukan siapa-siapa yang berwenang menentukan nilai-nilai intrumen dan siapa-siapa yang akan menjalankan nilai-nilai praktikalnya. Mari bangun pendidikan berdasarkan filosofi pendidikan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bukan untuk mencerdaskan otak” tutup Prof. Mahfud.

Sementara itu, Rektor UNIMA Prof. Dr. Julyeta P.A. Runtuwene, M.S. berharap agar supaya UNIMA dapat mencatatkan nama dalam sejarah bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan.

“Selaku Rektor saya berharap semua peserta KONASPI dari UNIMA dapat mengambil bagian dan aktif memberi sumbangan pemikiran untuk perumusan konsep inovatif pendidikan Indonesia, karena dengan ini, kita telah mencatatkan nama UNIMA dalam sejarah bangsa Indonesia” ujar satu-satunya Rektor perempuan LPTK Indonesia.

Tondano, 14 Maret 2019
011/MCU/III/2019-VR